Pada sebuah seminar, seorang pembicara dengan gamblang menjelaskan fenomena politik kekinian yang tidak berpihak pada rakyat, dia menjelaskan dalam kacamata akademisi sebagaimana background profesinya, dengan berapi api menyatakan bahwa penguasa saat ini tidak mampu menciptakan keseimbanagan politik, hal ini dapat dilihat dari "struktur kabinet" yang tidak mengakomodir realitas Pluralisme...
dalam pandangannya Pluralisme adalah fakta yang harus menjadi kiblat semua pelaku politk di daerah ini,,,, tapi sungguh naif ketika pembicara menjlaskan makna pluralisme yang sangat "menindas" bahkan keluar dari rumus teoritik yang baik... Pluralisme menurut sang pembicara tersebut adalah "kebersamaan dalam keragaman" dimana perbedaan adalah sebagai bumbu sosial yang melezatkan relasi sosial atas perbedaan dalam kacamata sosial, dengan demikian mayoritas harus memberikan kesempatan kepada minoritas, karena premisnya mayoritas=penguasa, maka mayoritas pasti berkuasa, dalam keuasaannya haus memberikan kesempatan bagi para minoritas...
Sang pembicara telah salah kparah memaknai Pluralisme, mungkin saja sang pembicara terlalu dijejali kepalanya dengan tumpukan buku yang teoritis hingga dia berani memberian pandangan seperti itu, dia pub berbicara seakan akan menguasai lapanagan puralisme sendiri,,, padahal pluralisme adalah "mengokohkan perbedaan dalam fakta perbedaan" dengan demikian asasi perbedaan itu sendiri tidak dibunuh oleh watak kebersamaan, karena term kebersamaan cendrung mengantipati realitas perbedaan.
simak saja statement sang pebicara tersebut yang menyatakan bahwa mayoritas sduah pasti berkuasa, ini sama dengan secara substansi sudah membunuh hak hak politik sosial bagi minoritas, disisi lain diapun berstatement bahwa pluralisme seakan akan tidak berwatak pluralitas, karena pluralis+isme sduah menjadi ideologi, berbeda dengan pluralitas yang lebih mendepankan fakta perbedaan,, serta bagaimana kemudian perbedaan menjadi energi perubahan sosial.
sejauh ini masih banyak kalangan yang salah menafsiran arti pluralisme sebagai ideologi, sebut saja MUI (majelis Ulama Indonesia), yang mengeluarkan fatwa mengharakan pluralisme, sekularisme dan libaralisme... kalu saja pluralisme yang dimaksud oleh pembicara diatas ya.... setuju,,, tapi mari kita maknai lebih jauh pluralisme yang sesungguhnya.















5 komentar:
beberapa waktu lalu ketika di mataram saya menyempatkan diri seharian mengunjungi asrama transito dimana selama bertahun-tahun warga ahmadiyah mataram terpaksa tinggal ditempat tersebut. apakah kondisi mereka seperti ini yang dimaksud sebagai "mayoritas sduah pasti berkuasa" itu?
untuk sementara no komen soal politik dan apapun yg berbau politik. sedang tak ingin nguras pikiran,he..he...
ya kira kira begitu mas Deden... mayoritas dimana mana mah... kadang lupa diri, padahal kalau make rumus dari levuatahan ke liliput... keliatan kan kalau kita awalnya minoritas menuju mayoritas tirani, biasanya sejarah kebanyakan begitu... tapi soal Ahmadiyah, ruangnya sudah kewilayah politisasi agama, yang dibutuhkan kearifan mayoritas....
berat urusannya
namanya juga pembicara..terkadang hanya mampu berbicara di dlm forum saja, tp apabila di coba pada hal yang sebenarnya, ada jg beberpa pembicara yang tdk bisa berbuat apa2
Poskan Komentar