“Keragaman adalah sebuah kekuatan dari masyarakat sipil sendiri, karena dengan keragaman masyarakat akan terkolaborasi dengan berbagai macam varian budaya dan agama ditingkat cultural sehingga menemukan titik signifikansinya dalam melakukan konsolidasi terkontruksinya civil society”
Gagasan awal Keragaman Masyarakat
Indonesia, sebagai Negara Bangsa yang mempunyai ruang lingkup Cultural dan Agama yang plural, ini ditandai dengan kompleksnya varian cultural ditingkat masyarakat serta beragamnya kepercayaan terhadap Tuhan dalam bentuk agama, keragaman tersebut sebenarnya akan menjadi sebuah ancaman bagi eksistensi civil society ataukah menjadi potensi dalam melakukan perubahan serta penguatan masyarakat itu sendiri.
Sebuah kenyataan yang tidak bisa ter-nafikan oleh kita bahwa, permasalahan yang paling subtantif ditingkat masyarakat adalah lahirnya suprastruktur (perangkat nilai adat/budaya dan agama) dan infrastruktur (tokoh adat dan agama) ditingkat cultural, yang lalu kemudian akan mengkonstruksikan kuasa kuasa dalam perspektif politik, dan ekonomi, ditingkat cultural maupun structural. Permasalahan ini bila dirunut secara histories akan melahirkan akar permasalahan cukup relevans atas interpetasi “Kebenaran” yang bersumber pada Agama dan Budaya sebagai perangkat konstruksi nilai Dominan ditingkat struktur, yaitu Negara dan Rakyat.
Keragaman tersebut sekaligus akan menjadi ancaman serta potensi apabila tidak terdialogkan dengan realitas kebenaran diluarnya, artinya dalam konsep pluralitas, mengimpikan bahwa dari sekian banyak terma dan kebenaran yang terinstitusi dalam perangkat supra dan infra struktur agama dan budaya, terjadinya akselerasi serta keseimbangan pemahaman bahwa wilayah kebenaran masing masing adalah milik pribadi serta tidak perlu diperdebatkan diruang publik.
Konsep pluralitas sendiri lahir atas munculnya “truth claim” berwatak monotheisme bagi publik, serta unsur misionarisnya untuk satu kebenaran yang dipaksakan oleh sebuah agama atau entitas cultural tertentu untuk publik (orang lain diluar dirinya). Padahal seharusnya perihal demikian adalah sesuatu yang cukup dipahami serta diyakini dialam keyakinan “private”.
Fokus pada keragaman Agama dan Budaya yang berwatak “truth claim” dan misionari, sesungguhnya sangat naïf terjadi, karena hampir semua agama dalam perangkat nilai budaya menganjurkan kepada pengikutnya untuk “memanusiakan manusia”, begitu juga budaya, bahwa budaya adalah sejenis “kodifikasi” prilaku serta hasil pikir, pengalaman sebuah individu atau komunitas terhadap keadaan tertentu, akan tetapi sungguh ironi bahwa agama dan Budaya yang sampai pada kita adalah hasil produksi histories generasi masa lalu yang lebih kita terima sudah terinstitusikan, oleh karenannya eksistensi “kebenaran” yang ada dimasing masing ranah Agama dan Budaya beda pasti akan terjadi beda interpetasi baik dalam symbol maupun sebuah struktur yang mapan
Perangkat analisa yang menarik telah ditawarkan oleh pakar pembaharu Islam seperi Hasan Hanafi misalnya, Ali engginer dll, cukup menarik untuk digunakan, maka akibatnya adanya truth claim, yang nota benenya memunculkan sebuah pengakuan kebenaran tunggal diwilayah Universal, hal ini adalah sesuatu yang naif karena kenyataannya kita hidup tidak sendiri di muka bumi ini atau dimanapun, akan tetapi sesungguhnya sedang bergandengan dengan berbagai macam kebenaran kebenaran lainnya yang sangat beragam, disisi lain pembakuan struktur mapan oleh kenyataan ruang waktu tertentu, dalam Islam misalnya, ketika Umat Islam dari zaman pasca Rasulullah SAW yang telah sampai pada kita (sekarang) Islam sebagai sebuah agama telah banyak memproduksi penjelasan secara konsep terhadap realitas ke agamaan, munculnya aliran aliran teologi, fiqih dll yang beragam pada masa abbasiyah, sesungguhnya hal tersebut apabila dikolaborasikan akan menjadi khazanah kekayaan gerakan serta pengetahuan Islam, akan tetapi karena telah dibangunnya struktur Sosial mapan (agama dan Budaya terinstitusi) menjadikan kebenaran masa lalu tersebut menjadi kebenaran yang “mutlak”, sehingga kini sampai sekarang menjadikan Islam sebagai agama yang Stagnan serta tak jarang ditampakan berwatak anarkhis. upaya yang harus dilakukan adalah mengawali dengan dekonstruksi struktur mapan ditingkat masyarakat tersebut sehingga proses reproduksi nilai lama yang terkonstekstualkan ditingkat actual, sehingga hakikat dari tujuan agama dan buaya yang sangat murni untuk kebaikan manusia sebagai tujuan termanifestasikan.
Indonesia yang umumnya sebagai sebuah Negara yang hitrogen ditingkat cultur masyarakatnya, begitu juga dengan kenyataan NTB dengan kenyataan masyarakat etnis dan agamanya sangat plural, sekilas nampak perbedaan ini membuat sangat terbatas serta menjadikan sekat yang berarti dalam relasi individu maupun social dalam komunitas, sehingga bagi kita yang memandang tersebut sebagai hambatan, maka akan kaku dalam memberikan interpetasi keragaman tersebut secara sepihak atas realitas diluar kita, kecendrungan memandang keragaman tersebut sebagai biang konflik yang anarkhis, padahal dalam kenyataannya tidak demikian, keragaman budaya yang ada tidak lalu membuat kita skeptis pada budaya “orang lain” karena budaya yang lain tersebut tetap menyimpan kekayan serta muatan perubahan yang unggul dari kebudayaan kita.
Civil Society menuju Masyarakat Terbuka
Masyarakat sipil mengimpikan terjadinya counter kuasa negara serta terjadinya penguatan Masyarakat ditingkat cultural, dua matra yang berbeda tersebut sesungguhnya sangat related, akan tetapi pada saat ini kita akan coba mensoroti, realitas cultural yang sama sama menjadi peluang sekaligus pengambat menuju terkosntruksinya civil society.
Signifikansi Civil society adalah terkonsolidasinya gerakan Rakyat dalam menghadapi Hegemonic Kuasa dari manapun itu munculnya sehingga Masyarakat akan powerfull serta tidak rentan terhadap kenyataan yang kerap ditemui olehnya, Salah satu dari sekian benyak fenomena ditingkat cultural adalah, realitas keragaman yang disadari akan adanya oleh masyarakat sendiri sehingga terciptanya masyarakat yang terbuka atas keragaman dan dia menyadari bahwa satu dengan yang lainnya saling membutuhkan.
Impian masyarakat terbuka, adalah masyarakat yang sadar akan kenyataan keragaman sendiri, sehingga didalam masyarakat tersebut terjadi proses dialogis kebenaran kebenaran yang ada, diawali lahirnya kesadaran yang tinggi dari masyarakat sendiri, maka seandainya masyarakat itu sadar akan kenyataan keragamamnya, tidak ada lagi pengklaiman “aku” akan tetapi yang selalu dimunculkan adalah “kita” dan “kami”.
Interaksi keragaman ditingkat masyarakat pada awalnya melahirkan perdebatan ditingkat kebiasaan (semantic) sedangkan substansinya mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin hidup bahagia dan berkemakmuran, maka upaya yang harus dilakukan adalah kerja kerja penemuan serta pembongkaran kebiasaan kebiasaan yang tidak relevans, untuk ditampilkan pada ranah cultur beda, ini tidak berarti konfrontasi “kebenaranmu adalah milikmu dan kebenaranku adalah milikku”, akan tetapi signifikansi nya adalah terjadi dialog menuju kesepahaman eksistensi serta hakekat budaya masing masing.
Keragaman adalah sebuah kekuatan dari masyarakat sipil sendiri, karena dengan keragaman masyarakat akan terkolaborasi dengan berbagai macam varian budaya dan agama ditingkat cultural sehingga menemukan titik signifikansinya dalam melakukan konsolidasi terkontruksinya civil society, disisi lain fenomena maraknya kerusuhan di Indonesia dewasa, melahirkan anarkhis, mulai dari kerusuhan yang bermuatan Etnik, Ras dan Agama, karena perdebatan pragmatis ditingkat masyarakat yang belum seutuhnya sadar akan kenyataan keragaman yang ada, sehingga didalamnya masyarakat akar rumput yang seharusnya menjadi basic civil society belum tersadarkan seutuhnya terhadap kenyataan pluralitas.















2 komentar:
Ada sebuah strotip yang sangat lama dan (mungkin) masih berlaku sampai sekarang,adalah manusia lebih nyaman hidup dengan golongan mereka sendiri dan membantu golongan sendiri.Misal berdsarkan etnis,dari beberapa temenku yg beretnis lain. mereka bilang semacam hukum tidak tertulis yg menyebabkan mereka wajib seperti itu.
wah agaknya berat nih topiknya...pernah bacanya buku yg judulnya positiva negativa ga??? tema nya hampir sama, tp kalau ga salah ini ngebahas tentang orang2 yg terpinggirkan di komunitas masyarakat, conthnya kyk anak punk..
salam kenal
Poskan Komentar