Politisi Ber-PNS dalam Pilgub - AA. Yonk-Q

Politisi Ber-PNS dalam Pilgub


Sapa,an akrab dibarengi obrolan ringan meluncur dibibir seseorang paruh baya berseragam PNS, serentak memecah suasana keseriusan para buruh tani membajak sawah majikannya, para buruh tani yang berjumlah hamper 20 orang tersebut, bekerja paruh waktu untuk memenuhi hajatan hidupnya, semua kebutuhan hidupnya digantungkan pada juragan dan kerja menggarap sawah tersebut.


Setelah pria ber-PNS tadi menyampaikan materi penyuluhan selajutnya dia mulai lagi caramahnya dengan tema “politik kekinian”“Dengar semua ya… pemilihan Gubernur nanti milih calon gubernur “A” ya… ! Pria paruh bayah tersebut mengerutkan keningnya, sembari menyampaikan kata tersebut kepada para buruh tani yang terhenti aktivitas kerjanya, mendengar ucapan Pria berseragam PNS tersebut, sembari menunggu respon para pekerja tersebut, dia melanjutkan lagi ucapanya dengan mengatakan segala keunggulan dari calon yang didukungnya, sekilas cara bicara, bahasa tubuh bahkan performancenya seperti Juru kampanye (masa Orde baru) terlatih betul, ck..ck.. ck..!
Dari pojok surau sederhana ditengah sawah tersebut, salah seorang buruh tani ingin mengungkapkan sesuatu, ketika mendegar ucapan pri ber-PNS tadi, secepat mungkin Pria ber-PNS member isyarat agar diam dan mendengarkan kata kata lanjutanya.. ya intinya suasana tersebut tidak terjadi dialog akan tetapi monolog,,, ya biasa para buruh pun dengan gaya “rakyat kecil” mengiyakan ucapan sambil mengangguk angguk “kebingungan” dengan Tutur kata pria ber-PNS tersebut.
Fenomena tersebut, sekilas tidak bisa diamati secara langsung oleh banyak orang, akan tetapi fakta tersebut terjadi karena kesempatan politik yang ada, Demokratisasi yang dihajatkan sejak tahun 1998 ditandai dengan Reformasi tersebut, berangsur angsur tetap berjalan, ruang partisipasi dan kesempatan menyampaikan pandangan terbuka begiu luas, lihat saja pria Ber-PNS tersebut dengan bebas menyatakan pandangan politiknya yang samar samar diartikan inilah demokrasi, yang memberikan kesempatan pada setiap orang untuk berkompetisi pada ruang dan kesempatan politik.
Disatu sisi space demokrasi yang lapang tersebut akan hambar dan terasa mundur ketika digunakan untuk kepentingan sesaat, serta tidak menutup kemungkinan ruang ruang kosong demokrasi yang begitu luas, jikalau tidak diisi oleh “pendekar” demokrasi, maka akan di isi oleh “setan” demokrasi dan krewnya. Pertarungan Mengisi Demokrasi agar tidak hambar harus dilakukan, karena kita sudah memulainya, selanjutnya bagaimana ruang demokrasi yang luas tersebut di isi sehingga terjadi konsolidasi demokrasi yang lebih baik”
Kita bisa melihat prilaku bapak Ber-PNS tadi atas nama demokrasi melakukan kampanye politik yang “tajam” dan “eksploitatif”, disatu sisi dia menggunakan otoritasnya sebagai tenaga Penyuluh pertanian disisi lain dia memanfaatkan instrument tersebur untuk kepentingan politik yang belum tentu searah dengan kepentingan rakyat dan demokrasi, yang penting dia telah menggunakan kepentingan politik dengan keunggulan ruang Demokrasi.
Dengan muka yang sok patriot Pria Ber-PNS menyatakan, bahwa calon gubernur yang ditawarkannya akan menjamin kehidupan buruh tani lebih baik dan sejahtera… (lha iya lah…), tapi rupanya dia tidak sadar saat itu dia sedang dalam tugas Negara yang harus senantiasa memberikan pelayanan pada masyarakat, karena telah digaji dari APBN/APBD yang nota benenya uang rakyat… sadarlah bapak Ber-PNS, anda bukan abdi politik kepentingan juga bukan digaji untuk berplitik atas nama calon A atau Calon B, tapi memngabdi pada Masyarakat….!

0 komentar:

Syahadat, Demokrasi dan Nasionalism mengitari Blog ini, tidak berarti dijamin masuk surga, atau tidak disangsi kalau melanggar hukum atau juga mungkin paling berhak atas negara Bangsa ini"