Membeincang tentang “isu” santer ahir ahir ini, kita bisa denger dimana mana, televise, radio, media massa, bahkan menjadi headline di ruang curhatnya para blogger, isu itu ya tentu tentang maraknya 100 tahun hari kebangkitan nasional…. Seyogyanya kita membicarakan tema itu bukan dalam kerangka latah atau karena momentumnya lagi IN, ia nggak…?!
Kita bisa membaca sejarah yang tersebar dibanyak supplier informasi, bahwa tanggal 20 Mei kemudian dinobatkan menjadi HARKITNAS alias Hari Kebangkitan Nasional, ya hasratnya ingin mengenang jasa para pendahulu kita yang telah menjuang semangat nasionalisme, hingga Indonesia mampu berdiri dengan kekuatan keragaman melawan imperialism disaat itu.
KITNAS, kira kira mengingatkan kembali kepada kita sebagai anak bangsa yang mewarisi kemerdekaan ini, akan semangat dan cita cita mengapa perlu adanya Indoensia, begitu pula mendorong patriotisme untuk mewujudkan cita cita Negara Bangsa yang mensejahterahkan masyarakat Indonesia, kira kira begitulah….
Saya cukup tersentak, ketika seorang kawan nyeleneh berkata.. kita sedang merayakan HARKITNAS dalam kenyataan HARKUTNAS, saya bertanya, kok bisa,,,,? Maksudnya..? selanjutnya kawan saya yang dikenal sastrawan yang kerap menebar pikirannya via SMS tersebut, “ketersinggungannya” bahwa dengan gagah perkasanya banyak pasukan baris berbaris merayakan upacara bendera memperingati HARKITNAS, spanduk spanduk menorehkan tema tema tersebut pada pojok pojok kota, tiba tiba tema media massa serentak membincang patriotisme pahlawan masa lalu kita, begitu pula para pejabat sibuk menginstruksikan jajaranya agar mempersiapkan upacara seremony perayaan HARKITNAS.
Tapi disisi lain fakta hari ini, lanjutnya….. Kita dalam kondisis yang memprihatinkan, selayakanya kita sebut HARKUTNAS saja, alias HARI KEBANGKRUTAN NASIONAL,,, katanya sambil tersenyum menyipitkan matanya… saya pun mengejar maksudnya tersebut dengan pertanyaan, apakah indkasinya Kawan…?!
Ya … 100 Tahun HARKITNAS saat ini, kita rayakan ketika kondisi Moral para pemimpin mulai “merosot” alias tidak peduli pada kepentingan rakyat, lihat saja Koruptor baru sebatas jargon kampanye ntuk di “antikan”, KPK dan kejagung hamper tiap hari menangkap koruptor2 baru, entah ini menunjukan tingginya angka pemberantasan korupsi atau malah memberi sinyal meningkatnya angka kroupsi, kok yang ditangkap tangkap hanya yang itu itu saja, yang gede kok nggak diproses ya…, disisi lain disaat Pasukan paskibraka mengibarkan bendera merah putih pada upacara HARKITNAS, juga saat itu para mahasiswa, buruh, profesionelism, NGO dan rakyat lainnya menolak kenaikan BBM, tapi pemerintah seakan akan kupingnya perlu dikorek ya… biar jelas mendengarkan aspirasi rakyat… Ya BBM tetap dinaikan,, walau si tukang ojek, tukang roti, kenek dan sopir angkota teriak menjerit atas impact dari kebijakan tersebut.
Teman saya masih semangat menjelaskan juga, tentang merosotnya nilai kebangsaan kita, ini ditandai dengan menguatnya kelompok Islam Transional yang getol mendorong symbol symbol agama untuk di negarakan, ya bekasnya kita bisa melihat gagalnya mereka mengembalikan piagam Jakarta, kemudain dilanjutkan dengan formalisasi perda perda mengaji, wajib sholat dan lain lain di daerah,,, yang terahir kelompok kelompok tersebut bahkan menggunakan cara cara kekerasan untuk memperjuangkan pandangnya tersebut, padahal hal hal tersebut tidak pernah diajarkan oleh Islam yang saya kenal… parahnya lagi Pemrintah memancing diair keruh,,, ya itung itung nunggu momentum pilpres 2009 kali…
Teman saya masih sangat semangat,,, tapi sebelum ia melanjutkan ceramahnya tersebut,,, sayapun menyatakan sepakat dengan pandangnya tersebut,,, lalu saya pun bertanaya, bagaimana solusi kawan.. ya solusinya “kita ingatkan para elite politik jangan lagi menggunakan term term bangsa untuk eksploitasi politik, begitu pula rakyat kita kuatkan agar tidak diperdaya oleh kepentingan kepentingan poltik sesaat, dengan politik dagang sapi, belah bamboo ataupun pencitraan “harum semerbak” padahal sesungguhnya kita bangsa yang tidak berani melawan Gurita dengan sejuta jejaring perangkap, tapi sesungguhnya kita mempunyai kekuatan untuk menggunting jejaring bahkan menggulung jejaring tersebut hingga gurita kelepa kelekar…… ck… ck…. Ck… semangat sekali kawan saya ini…
Ya sekali lagi melihat satu persoalan tentunya, ibarat melihat uang logam, slaykanya kita melihat dari banyak sisi (ya, bukan sobijak lho..), kalau melihat uang logam seratus rupiah dari sisi kirinya, maka kita akanmenginterpetasikan uang seratus rupaih yang bagian kiri tadi, begitu pula sebaliknya… maka melihat Indoensia hari ini cukup kompleks alias lengkap dengan segala tetk bengeknya,,, ya sebagai Negara Demokrasi yang terbesar ke tiga setelah India, Indonesia sesungguhnya dalam masa transisi yang harus terusn menerus di isi oleh segenap energi bangsa ini…
Tentang HARKUTNAS,,, wajar jikalau teman saya tdai mengkritik dan bahkan kelihatanya bosan dengan prilaku elite kita yang hanya doyan “Berwacana” diskusi istana, seperti adanya ungkapan ungkapan “kita akan mensejahterahkan rakyat” tapi bingung menetukan caranya, syapun sepakat momentum HARKITNAS dalam Kondisi Kebangkrutan Moral dan terdiktenya kebijakan Pemerintah kita oleh kepentingan Asing,, hingga selalu memasang ketergantungan Politik, Ekonomi, pangan bahkan Migas yang kita miliki sendiri,,,,????! Ya. Ampun..!

















